5 Mitos dan Fakta Seputar Ibu Menyusui

Baca Juga


Isunews - Menyusui berefek positif pada ibu. Menurut para ahli, menyusui dapat mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium, mengurangi pendarahan setelah persalinan, serta membakar kalori.

ASI dikemas dengan nutrisi yang mendorong sistem kekebalan tubuh dan memastikan bayi terlindung dari ancaman sindrom kematian mendadak (SIDS), infeksi telinga tengah, diabetes, dan risiko gangguan psikologis. Pakar kesehatan di SL Raheja Hospital India, Asmita Mahajan mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama usia bayi.

Setelah enam bulan, ASI dilanjutkan minimal satu tahun ditambah makanan pendamping ASI (MPASI). Setelah itu, jika bayi dan ibu memilih ingin melanjutkan menyusui, maka bisa dilakukan hingga usia dua tahun atau lebih.

Tahap menyapih juga berbeda dialami masing-masing ibu. Ibu rumah tangga yang kesehariannya di rumah biasanya dapat menyusui bayinya lebih lama. Ibu pekerja mungkin lebih cepat berhenti menyusui bayinya, namun tetap bisa menyuplai ASI jika si kecil masih menginginkan.

"Menyusui adalah kekuatan super ibu dan tidak boleh dihentikan sebelum waktunya. ASI tidak mengenal kedaluwarsa dan tak akan kehilangan nilai nutrisinya, bahkan setelah diberikan lama. Itu bergantung kenyamanan ibu dan anak, selama masa menyusui satu hingga tiga tahun," kata Ahli Obstetri dan Ginekolog di Fortis Hospital, Kalyan, Sushma Tomar, dilansir di Mid Day, Senin (20/8).

Tomar menyimpulkan tubuh ibu sudah dirancang untuk menyusui bahkan di luar masa minimal yang dianjurkan. Inilah mengapa ASI tak mengenal tanggal kedaluwarsa sehingga bergantung pada berapa lama ibu dan anak ingin melanjutkan menyusui.

Sumber : Republika

close